Aksi…II
Setelah lebih dari 2 jam, kami para mahasiswa, aktivis LSM serta para ibu-ibu yang peduli yang tergabung dalam aliansi pemuda selamatkan bangsa, akhirnya berhasil mem-futuh-kan LSF. Petinggi LSF (Lembaga Sensor Film) itu akhirnya berikrar tak akan memberi izin rilis film yang berbau pornografi. “Alhamdulillah Ya ALLAH” Engkau telah mencurahkan secercah hidayah-Mu pada kami semua, indahnya merasakan benci pada kebatilan secara berjamaah seperti ini. Alhamdulillah wa Syukurilah…kefutuhan ini merupakan anugerah dari ALLAH SWT.
Ya.. anugerah, khususnya untukku. Saat bangun tadi subuh, aku tak menyangka akan merasakan moment dahsyat ini di siang harinya. Planingku hari ini adalah :
o7.oo-o9.oo : Mencuci baju, persiapan kuliah
o9.oo-11.oo : Kuliah Agama, presentasi kelompok
11.oo-12.oo : Kuliah Metoda Numerik, persiapan UAS
12.oo-13.oo : Briefing Fasilitator MasaBinasa (Kaderisasi Himpunan)
13.oo-15.oo : Kuliah Medan Elektromagnetik, persiapan UAS
15.oo-17.oo : Penyelesaian laporan Tugas Besar Lab TF 1,
“Sensor Diskrit Ketinggian Air”
Maha Suci Allah yang memudahkan segala urusan…
Persiapan presentasi untuk kuliah agamaku ternyata tak termanfaatkan sekarang, dosen agamaku, Pak Yedi, tak hadir. Aku langsung teringat sms temanku,
” Wahai diri, Sesungguhnya jika kau tak mati di medan juang, maka kau akan tetap mati walaupun diatas kasur…. Aksi Moral (Penolakan film ML) @Jakarta, Besok kumpul jam7 @Gerbang Ganesha. ”
Sungguh, sejak kemarin aku ingin sekali mengagendakan aksi ini dalam jadwalku hari ini. Tapi aku punya amanah menjaga kepercayaan teman sekelompokku dalam presentasi dan pengerjaan tugas. Tak bisa kulepas rangkaian integritas diri yang baru kurajut. Demi dakwah kedepannya.
Segera kupastikan jadwal penyelesaian laporan Tugas Besar-ku, alhamdulillah ternyata dapat diundur. Dan jadwalku yang lain pun telah berhasil kuatasi. Kemudian langsung saja aku menelepon komandan lapangan,PJ aksi ini, akh Gesa,
”Assalamualaikum, akh, udah berangkat belum? Kapan berangkatnya? Oh, Jam 9.30. ya! Makasih!”
”Oh, My…. itu kan 5 menit lagi!!!” Aku bangkit, bergegas untuk turun dari lantai 2 GKU Barat menyusuri koridor FT-IF, melalui campus center dan akhirnya sampai di Gerbang….. tapi…
”Hei… where is the bus? Oh No… I missed the bus!!! Masya Allah !!!” Aku benar-benar merasa telah menyiakan kesempatan dalam persiapan berangkat ke medan juang… coba lihat, apa persiapanku?!! Jadi teringat kisah seorang sahabat yang tertinggal perang karena lalai dalam mempersiapkan kepergiannya, kemudian mendapat iqob yang ia rasa itu adalah ujian terberat baginya… Aku harus menerima ini, mungkin banyak hikmah yang bisa kuambil….
”Lagi ngapain Sa?! ” terdengar suara kawanku dari belakang ” eh, Ridwan… Sa ditinggal ama rombongan yang akan aksi ke Jakarta” ” Bareng kita-kita aja, naik mobil teh Essa, Iqbal yang nyetir… masih cukup koq!!”
”Oh ya?!! Bisa gitu?!! Alhamdulillah…!!!”
Itulah awal kisah yang mengharukan ini. Sungguh pengalaman ini begitu membekas dihatiku, bahkan sebelumnya tak pernah terlintas dalam benakku akan menjadi bagian dari para aktivis kebenaran yang berjuang dengan sepenuh hati dan jiwa raga mereka.
~~ back to Jakarta ~~
”Hidup Mahasiswa”
“Hidup Rakyat Indonesia”
“Hidup!!!”
“ Perjalanan kita masih panjang dalam perjuangan ini… Apa kalian sudah lelah?? “ Sang orator bertanya ”Belum!!” kami serentak menjawab. ”Mari kita bersiap kembali, karena kita akan mendatangi PT Indika Media Cipta, sang pembuat film tak bermoral itu!!! Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa banyak anak bangsa yang masih mencintai kebenaran, yang akan menghadang upaya mereka merendahkan moral bangsa ini!”
”ALLAHU AKBAR!!!”
Aksi…
Hidup Mahasiswa!!!
Hidup Rakyat Indonesia!!!
Hidup!!!!!
Gaung itu terdengar dahsyat bergemuruh di seantero jalan MT Haryono, Jakarta. Begitu pun dalam hati dan jiwa ku. Tatkala kulihat dengan penuh pratiotisme, kawanku, Ifan, mahasiswa yang berasal dari UI itu melantangkan seruan ”TOLAK PORNOGRAFI !!!” ”USIR PRODUSER CABUL” “Apa jadinya masa depan anak bangsa kita kalau sekarang mereka dicekoki Pornografi??!!!”. Setelah Ifan, ada lagi kawanku yang lain yang berorasi serupa. Seorang Akh dari BEM IPB kemudian menyambut seruan ifan dan melanjutkannya, disusul kemudian Akh Gilang dan Akh Gessa dari ITB. Setiap orasi selalu disambut dengan seruan takbir dan pekikan penuh semangat.
Semangat kami tak kalah menyengat dari sorot teriknya matahari Jakarta pukul 2 siang. Tak terasa kami sudah hampir 1,5 jam berada disana, di depan gedung LSF (Lembaga Sensor Film) Indonesia. Kulihat sudah rona kelelahan di wajah Ibu-ibu, anak mereka, juga kawan-kawanku aktivis mahasiswa. Bayangkan saja, mereka sudah sejak pukul 7 pagi bersiap dari Bandung, lalu menempuh perjalanan Bandung-Jakarta sejak pukul 9, dengan bus yang sekedarnya, penuh sesak dan hiruk pikuk. Namun tak tampak sama sekali keinginan untuk berhenti saat itu. Lelah itu tak memudarkan semangat juang mereka. Semakin lama, mereka malah terlihat semakin antusias dalam menyuarakan kebenaran. Sungguh jiddiyah yang luar biasa, padahal mereka tahu kita semua akan masih seperti ini (berlelah-lelah) sampai sepanjang hari ini.
Tak lama kemudian, muncul beberapa wakil kami dari dalam gedung bersama salah seorang petinggi LSF yang hendak menyampaikan hasil diskusi mereka di dalam. Petinggi tersebut, Pak John namanya, berkata dengan agak lirih seolah ingin meredam amarah dan flow kami yang tinggi. Tak lupa diawali dengan kalimat pujian yang kata kawanku ”basa-basi pejabat” seperti ”Kami bersyukur masih ada pemuda yang peduli pada moral bangsa ini…. bla..bla..bla…”. Tapi inti perkataannya adalah bahwa mereka mengelak dikatakan tidak konsisten menjalankan hukum penyensoran film. Padahal jelas-jelas mereka melanggar undang-undang tersebut sewaktu mereka memberi izin rilis film XL, Quicky Express, Tali Pocong Perawan, ML, dan masih banyak lagi…. Film terakhir ini yang lebih jadi sorotan kami, karena kabarnya akan diputar perdana besok, 15 Mei 2008 di bioskop-bioskop Ibu Kota.
Bantahan tersebut disambut sorakan cemoohan dari kami, kemudian danlap kami, Akh Gessa, langsung mengambil alih fokus dan berorasi kembali (langsung di depan Pak John), disusul pembacaan puisi dari Ukhti Muti, dilanjutkan oleh penegasan sikap dari pihak Ibu-ibu tentang penolakan pornografi ini. Orasi dahsyat berturut-turut ini rupanya menggentarkan hati Pak John, sebab tak lama kemudian ia meminta Gessa untuk diberi izin bicara kembali dan tak diduga ia berkata: ”Saya telah mendengar dan menyaksikan pernyataan kalian, dan saya atas nama diri saya akan mencabut izin penayangan film ML! Jika itu tidak terjadi atau saya tak berhasil melakukannya maka saya akan mengundurkan diri dari jabatan saya dan anda sekalian boleh TEBAS batang leher saya, anda semua saksinya! Saya akan mencabutnya!!!”
Kami semua tercengang sekaligus terharu mendengar pernyataan fantastik ini. Dengan serta merta, pekik takbir berkumandang dari setiap kami. Rasa haru biru memenuhi relung ini. Sebuah janji yang terikrar dan pasti dimintai pertanggung jawabannya !! ”Ingat Pak!!” tegasku dalam batin. ” Tak hanya Film ML saja, bahkan film lainnya pun yang sejenis tak akan saya beri izin!!” lanjut Pak John dengan emosional. Mendengar itu, makin harulah suasana. Beberapa ikhwah saling berpelukan, berjabat tangan, banyak pasang mata berkaca-kaca. Dan pekikan ”Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia” makin menggetarkan bumi Jakarta.
Agar Bidadari Cemburu Padamu
isinya tentang ….
hello… !!!
watashi wa lina desu….
dozo yoroshiku ….
welcome to my world…!!!
-
Arsip
- Oktober 2009 (3)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (2)
- Februari 2009 (4)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (2)
- Mei 2008 (5)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS