Khansa…

menulis itu kristalisasi pandangan

Fikri Sayang…

(dedicate to my room mate “Popy Purnamila”)

Siang itu mentari bersinar cerah, aku dan tyas berangkat ke kampus bersamaan karena jam kuliah kami sama. seperti biasa kami naik angkot caheum-ledeng ke arah gerbang belakang kampus ITB.

Sambil asik bercanda di angkot, menceritakan kelucuan-kelucuan adik2 Attaqwa seperti biasa, tiba-tiba… aku melihat sesosok mungil adik yg selama ini paling kurindukan, ia adalah adik yang paling cerdas, menggemaskan, dan paling cepat menarik perhatianku saat pertama kali ia mengikuti pengajian di TPA Attaqwa… ia adalah “Fikri”.. sayangku…

Aku senang bisa melihatnya lagi setelah sekian lama ia absen dari pengajian. Aku bahagia sekali bisa melihatnya kali ini. Namun, rasa bahagia ini tak sempurna, ada semburat sedih mencuat di hati hingga akhirnya kuekspresikan dalam raut suram wajahku, raut itupun yg kulihat tersirat di wajah tyas, teman sekamarku. Rasanya aku bisa menebak apa yg dirasakan tyas… sama sepertiku. “Aku miris”

Coba lihat kesana, fikri kecilku sedang bemain, berlari-lari kecil di taman tengah kota, tanpa alas kaki, betapa cerianya ia. Betapa polosnya ia… tak ada risau terpancar dari wajahnya yg imut, tak ada keraguan menapaki kebahagiaan itu, tak ada sedih meratapi nasibnya. Bukan karena cerianya itu aku merasa miris, tapi yang aku miriskan adalah “waktu & tempat yang salah” dimana ia berada sekarang… “Mengapa ia bahagia hidup di jalan sedang teman seusianya sedang belajar di TK?” “Yang aku takutkan adalah ia bahagia menjalani hari sebagai anak jalanan yg tak punya cita-cita” “yang aku herankan, Mengapa orangtuanya setega itu pada fikri, membiarkan ia tumbuh di jalan, jalan yang berteladankan preman & peminta-minta, miskin pendidikan, jauh dari pola hidup sehat, rawan penyakit” aku juga heran akan ketidakpedulian orangtuanya pada pendidikan anak-anaknya, pernah kudengar mereka kurang mendukung kegiatan sekolah Novi (kakak fikri), bahkan mereka sampai membuat Fikri & Novi absen dari pengajian”

Aku jadi teringat dulu, ketika kali pertama Fikri absen. Aku langsung mencari tahu alasan ketidakhadirannya. Aku diberitahu anak-anak TPA lainnya,bahwa ia tak diizinkan lagi mengikuti pengajian karena dia dan kakaknya harus membantu orangtua mereka berjualan di kios kecil di sisi jalan Siliwangi dekat perempatan jalan Dago. Saat diberitahu alasan itu aku agak kurang percaya, mungkin anak-anak salah menafsirkan maksud orangtua fikri melarangnya ikut TPA. Tak mungkin alasannya “separah” itu. Fikri baru berumur 4 tahun, masa iya, ia harus berjualan di perempatan jalan.

Sekarang barulah kupercaya berita itu benar…

“Ya Allah…Innalillahi…” aku harus melakukan sesuatu!!! pikirku.

Harus aku follow up-i hal ini dengan solusi nyata. Aku berazam kan kucari cara untuk mengubah hal ini, tidak hanya pada fikri tapi pada anak-anak lain disekeliling kosanku yang bernasib sama.

“Yas, kayaknya kita harus segera launching buletin Attaqwa untuk para warga deh!!!” seruku memecah lamunan Tyas, ” Iya bener teh!! Kita harus gencar melakukan pencerdasan ke warga-warga!! Jangan sampai hal seperti ini meluas dan menjadi prinsip hidup mereka” Sambung Tyas menyeru ajakanku. Rupa-rupanya Tyas mengerti apa yang sedang kupikirkan.

Pembicaraan pun terus berlanjut, sampai melahirkan ide2 yg bisa dijadikan alternatif solusi2 dari permasalahan tadi, dari mulai menyebar buletin, diskusi bersama pihak RT/RW, memasukkan isue ini ke majelis2 ta’lim, membuat pekan kreativitas Attaqwa, hingga akhirnya kami tiba di gerbang belakang kampus. turun dari angkot sambil menghadap ke kemegahan kampusku… aku jadi ingin berseru ” KONTRIBUSI !!!”

Desember 6, 2008 Ditulis oleh khansaft | atTaqwa, cerita cinta, inspiring story, lucu | | Belum Ada Tanggapan