Khansa…

menulis itu kristalisasi pandangan

hari ini hujan dan lembayung…

Hari ini hujan turun deras dan lembayung cantik menaunginya..

aku sendiri sedang merindukannya jauh di lubuk hati…

merindukan datangnya masa  itu yang seakan masih lama karna waktu terasa lambat berjalan…

merindukan saat-saat dimana aku menjadi lembayung yang cantik yang menaungi semangat atau emosinya yang mengalir deras…

menjadi lembayung yang cantik yang memperindah gelap ketika  hari menjelang malam

juga merindukan saat-saat dimana ketika aku yang menjadi hujan deras, maka ia menjadi lembayungnya… tak perlu cantik… cukup hanya sabar saja menantiku reda

April 28, 2009 Ditulis oleh khansaft | inspiring story | | No Comments Yet

miris…

Di samping kosanku di jalan Siliwangi dalam III, terdapat sebuah masjid kecil, Attaqwa namanya. Sejak pindah kesana bulan Oktober lalu, aku diminta mengajar disana sebagai guru TPA tiap malam selasa. Sekarang tidak hanya malam selasa saja, hampir tiap hari aku mengajar disana. Aku benar-benar menikmati malam-malamku bersama mereka. Kepolosan mereka, keceriaan mereka, tingkah pola mereka yang lucu yang membuatku jatuh hati pada mereka. Aku menyukai mereka semua. Untuk remajanya pun sama, meskipun mereka tidak selucu anak-anak kecilnya.

Tapi banyak sekali yang kumiriskan dari kondisi mereka. Mulai dari kondisi ekonomi, perilaku yang dicontohkan, serta pola hidup mereka.

Suatu hari aku pernah menasehati anak didikku yang remaja agar tidak lagi memakai celana pendek di luar rumah. Namun dia tetap memakainya meskipun telah berkali-kali kunasehati. Aku heran, saat dinasehati dia bilang “iya teh” tapi kenyataannya tidak berubah. Jika masalahnya adalah caraku menasehati, rasanya bukan, aku menasehati mereka dengan sangat halus sama sekali tidak dengan kekerasan. Setahuku , merekapun menyukaiku dan menghormatiku, jadi bukan karena “aku” mereka tidak mengikuti nasehatku.

Rasa heranku ini hilang disuatu kejadian yang membuatku mengerti. Suatu hari saat pulang kuliah. Aku melewati gang rumahnya seperti biasa, ia dan seseorng dibelakangnya -entah siapa- sedang berjalan ke arahku, saat berpapasan ia bilang “teh maaf ya hari ini g bisa ngaji, mau nganter ibu kesana” (menunjuk suatu tempat). “Oh ini Ibu??!!” aku kaget ketika melihat ibunya tapi tetap tersenyum kepadanya.

Dengan kaos berbahan strech (strit) ketat membentuk tubuhnya dan celana yang super pendek (hampir 2/3 pahanya terlihat) Ibunya berjalan berlenggang melewatiku. Tentu saja saat itu pula hati dan otak ku berdenyut keras dengan frekuensi yang jauh lebih besar dari biasanya , hatiku miris dan otakku tak habis pikir, bingung bercampur sedih memenuhiku….

“Inikah potret ibu masa kini ?! yang ukuran baik dan buruknya telah bergesar dari akhlak menjadi “gaul”. dan apa itu definisi gaul? “

“Pantas saja anaknya seperti itu, ibunya yang mencontohkannya”

Aku tidak bisa apa-apa…. tak mengerti bagaimana, siapa yang harus kusalahkan, bagaimana solusinya jika begini, siapa yang bodoh sebenarnya, ada siapa di balik ini, siapa yang menginginkan kehancuran ini, siapa yang harus bertindak, lalu aku bisa apa, serentetan pertanyaan terus menghujaniku…

Saat itu sejenak kulupakan dulu perasaanku, pertanyaan-pertanyaan di benakku, yang ingin aku lakukan terlebih dahulu saat itu adalah “berjanji bahwa jika aku jadi ibu, aku tidak akan seperti itu”

yang ingin aku lakukan terlebih dahulu saat itu adalah “berjanji bahwa jika aku jadi ibu, aku tidak akan seperti itu”

April 23, 2009 Ditulis oleh khansaft | artikel, curhat aja, inspiring story | | 1 Komentar