Khansa…

menulis itu kristalisasi pandangan

miris…

Di samping kosanku di jalan Siliwangi dalam III, terdapat sebuah masjid kecil, Attaqwa namanya. Sejak pindah kesana bulan Oktober lalu, aku diminta mengajar disana sebagai guru TPA tiap malam selasa. Sekarang tidak hanya malam selasa saja, hampir tiap hari aku mengajar disana. Aku benar-benar menikmati malam-malamku bersama mereka. Kepolosan mereka, keceriaan mereka, tingkah pola mereka yang lucu yang membuatku jatuh hati pada mereka. Aku menyukai mereka semua. Untuk remajanya pun sama, meskipun mereka tidak selucu anak-anak kecilnya.

Tapi banyak sekali yang kumiriskan dari kondisi mereka. Mulai dari kondisi ekonomi, perilaku yang dicontohkan, serta pola hidup mereka.

Suatu hari aku pernah menasehati anak didikku yang remaja agar tidak lagi memakai celana pendek di luar rumah. Namun dia tetap memakainya meskipun telah berkali-kali kunasehati. Aku heran, saat dinasehati dia bilang “iya teh” tapi kenyataannya tidak berubah. Jika masalahnya adalah caraku menasehati, rasanya bukan, aku menasehati mereka dengan sangat halus sama sekali tidak dengan kekerasan. Setahuku , merekapun menyukaiku dan menghormatiku, jadi bukan karena “aku” mereka tidak mengikuti nasehatku.

Rasa heranku ini hilang disuatu kejadian yang membuatku mengerti. Suatu hari saat pulang kuliah. Aku melewati gang rumahnya seperti biasa, ia dan seseorng dibelakangnya -entah siapa- sedang berjalan ke arahku, saat berpapasan ia bilang “teh maaf ya hari ini g bisa ngaji, mau nganter ibu kesana” (menunjuk suatu tempat). “Oh ini Ibu??!!” aku kaget ketika melihat ibunya tapi tetap tersenyum kepadanya.

Dengan kaos berbahan strech (strit) ketat membentuk tubuhnya dan celana yang super pendek (hampir 2/3 pahanya terlihat) Ibunya berjalan berlenggang melewatiku. Tentu saja saat itu pula hati dan otak ku berdenyut keras dengan frekuensi yang jauh lebih besar dari biasanya , hatiku miris dan otakku tak habis pikir, bingung bercampur sedih memenuhiku….

“Inikah potret ibu masa kini ?! yang ukuran baik dan buruknya telah bergesar dari akhlak menjadi “gaul”. dan apa itu definisi gaul? “

“Pantas saja anaknya seperti itu, ibunya yang mencontohkannya”

Aku tidak bisa apa-apa…. tak mengerti bagaimana, siapa yang harus kusalahkan, bagaimana solusinya jika begini, siapa yang bodoh sebenarnya, ada siapa di balik ini, siapa yang menginginkan kehancuran ini, siapa yang harus bertindak, lalu aku bisa apa, serentetan pertanyaan terus menghujaniku…

Saat itu sejenak kulupakan dulu perasaanku, pertanyaan-pertanyaan di benakku, yang ingin aku lakukan terlebih dahulu saat itu adalah “berjanji bahwa jika aku jadi ibu, aku tidak akan seperti itu”

yang ingin aku lakukan terlebih dahulu saat itu adalah “berjanji bahwa jika aku jadi ibu, aku tidak akan seperti itu”

April 23, 2009 Ditulis oleh khansaft | artikel, curhat aja, inspiring story | | 1 Komentar

Kulker… cari ilmu sambil jalan-jalan.. asyik!!

alhamdulillah di liburan semester ini lina bareng tmen2 FT06 dakal kulker (kuliah kerja). Pada awalnya kita ngerencanain kulker ke jepang, tapi dengan berbagai pertimbangan (dari segi finansial terutama) sepertinya tidak memungkinkan. sehingga rencana tempat tujuan kulker  kita ganti jadi singapur…

Harapan untuk melancong ke  negara termaju di asia tenggara itu tidak   memang tak seindah harapan untuk pergi ke Jepang, tapi itu pun tak menyurutkan semangat kami untuk terus berusaha, terus menabung supaya ketika diperlukan beriuran, tak perlu repot lagi mencari dana…

Ketika masanya telah dekat, sekira sebulan menuju rencana keberangkatan, sempat ada isu bahwa akan ada kemungkinan tidak jadi ke singapur dengan alasan fiskal yang mahal, katanya akan diusahakan untuk minta digratiskan, tapi sepertinya upaya tersebut gagal.

Dan tadi pagi , diumumkan bahwa kulker kita memang hanya sampai Batam, tak sampai Singapur. Jika ingin sampai Singapur makasilakan berangkat sendiri / masing-masing dengan tambahan uang fiskal & ongkos sendiri. Itu pun sudah bukan rangkaian acara kulker lagi.

Mendengar itu, sebenarnya ada sedikit rasa kecewa di hati, apalagi kalau ingat bahwa cita kami dulu adalah Jepang… Namun, kalau coba luruskan niat lagi, sebenarnya Batam itu sudah cukup untuk menjadi sasaran kulker, kita kan kesana untuk belajar, bukan tamasya… dan lagian kalau ingat bagaimana rizki untuk biaya iurankul;ker itu begitu mudah kudapatkan (Mahasuci Allah yang memudahkan segala urusan)… aku hanya bisa bersyukur….  Alhamdulillah.. semoga perjalanan ke Batam nanti sarat makna & ilmu.. Aamiin..

Desember 22, 2008 Ditulis oleh khansaft | artikel | | & Komentar