kisah nyata
alkisah ada orang jawa yang dapet beasiswa ke hongkong, kemudian dia berkenalan dengan teman sekelasnya. setelah ngobrol beberapa saat…
orang hongkong: “eh kamu dari jawa?? dulu ya, waktu kami masih kecil, jika kami nakal orangtua kami menakut-nakuti kami dengan “nanti dikirim ke jawa lho!!”
orang jawa (kesel) : “eh,… itu kan dulu… kalo sekarang ini … kalo di indonesia kamu ngomongnya ngelantur bakal dikira dari hongkong. misal ya kamu narsis bgt dan bilang kamu itu cantik padahal sebenernya biasa aja, nah orang indonesia akan bilang ” cantik dari hongkong?!!!?”
mirip orang minang
Suatu hari di masjid Salman…
ukhty X : Ka… Ka… orang minang ya?!
lina : mmhm… (heran)… Bukan.. kenapa?
ukhty X : soalnya wajahnya mirip temen saya yg orang minang…
lina : masa sih?!! (tersenyum)
(“orang minang dari hongkong!!?!!” pikirku dalam hati…)
Itu adalah percakapan teraneh dalam sejarah hidupku… (mulai melebay)
dan itu juga adalah awal perkenalanku dengan ita (si ukhty X)
kadang2 tak ada ….
Ade’ bungsuku yg sekarang berumur 6 thn paling suka nyanyi, segala macem lagu yg dia pernah denger dia nyanyiin, sampai suatu waktu kudengar dia bernyanyi.. seperti ini :
ade’ku : (menyanyikan lagu agnes) “Cinta ini….kadang-kadang tak ada Nobita !!”
Aqu: (ketawa…ketiwi…)
Ya…ampun De…de… ada urusan apa agnes ama nobita …!!! (sahutku)
Dia hanya bengong… dan malu…. akhirnya dia nyadar bahwa teks lagu yg selama ini dia nyanyiin itu salah….
ada-ada aj
ni cerita lucu bgt…
jd suatu malam, waktu sa lg ngajar di TPA. anak-anak pada ribut, berantem sampe ada yg nangis, bahkan waktu sholat isya pun mereka isi dengan main-main… Sa yg pd wkt itu lagi BT, menegur mereka ba’da sholat isya
“Perhatian semuanya!!!”
“Sekarang siapa yg mau main-main, lari-lari, berantem , sok aja!! silakan teteh kasih waktu 3 menit utk itu! sekarang!!”
Mendengar itu mereka makin girang dan dengan segera, perintah itu mereka kerjakan dengan senang hati. Sa jd tambah lemes… “yaa ampun… mestinya mereka sadar dong kalo sa tuh lg marah!!!” pikirku… sambil menertawai keluguan mereka dalam hati.
Setelah waktu tiga menit itu habis, sa mulai “ceramah”
“Temen-temen,… kalo kalian mau main-main, mau berantem, lari-lari, silakan , mangga aja… boleh pisan… TAPI asal jangan pas lagi sholat!! paham?!!” “Semua itu ada waktunya De!!”
“iya teh…!!!” sahut mereka
“Sekarang teteh tanya, ‘Siapa yang tadi pas sholatnya main-main??’ Ayo ngaku aja!!”
Mereka semua nunjuk-nunjuk temannya”Itu teh si itu!!” “Ini teh, si ini!!”
lalu sa tegaskan lagi”Ga boleh nunjuk-nunjuk!! harus ngaku sendiri. Siapa yg nunjuk orang, berarti teteh anggap dia ngaku!!”
sontak mereka langsung terdiam… krik krik…
Setelah beberapa saat… “iya teh, tadi saya main-main…” “iya, saya juga” disusul oleh yg lain yg mengaku juga. Mereka ada 4 orang, padahal Sa tahu sebenarnya harusnya jauh lebih banyak dari ini.
“Udah?? cuma segini aja?!!” “Udah ngaku aja, hukumannya g berat koq!!” tambahku. tapi tidak ada yang mengaku lagi
“Ya udah… untuk A Dimas, A Devi, Teh Winda, Teh Lia karena kalian telah jujur ngaku, besok Teh Lina kasih permen !”
“Tapi jangan gitu lagi ya?!!”
Mendengar kalimatku yg pertama barusan, anak-anak yg lain berlomba-lomba berkata “Saya tadi main-main” “Teh, Saya ngaku teh!!tadi main-main”… “Teh… Saya Teh!!!” “Saya!! Saya!!” Jeritan-jeritan mereka sampai memekakkan telingaku dan membuatku harus mengulang kalimat kedua “Tapi lain kali ga boleh main-main lagi ya!!!”
“Udah…udah… pengakuan yg baru teteh denger sekarang g berarti, teteh g mau terima!!” “Sekarang waktunya kita pulang…. “ISTIADAN!! DU’A-AN!!”
Pengajian hari itu pun berakhir ceria. ada nilai kejujuran yg telah coba kutanamkan. Ada juga nilai disiplin yg kuajarkan…
dan biar adil juga, besok sebelum memberi permen akan ku-”sintreuk” dulu mereka yg tadi mengaku telah main-main dalam sholat, sekalian jadi pelajaran buat yg lain… Insya Allah
Fikri Sayang…
(dedicate to my room mate “Popy Purnamila”)
Siang itu mentari bersinar cerah, aku dan tyas berangkat ke kampus bersamaan karena jam kuliah kami sama. seperti biasa kami naik angkot caheum-ledeng ke arah gerbang belakang kampus ITB.
Sambil asik bercanda di angkot, menceritakan kelucuan-kelucuan adik2 Attaqwa seperti biasa, tiba-tiba… aku melihat sesosok mungil adik yg selama ini paling kurindukan, ia adalah adik yang paling cerdas, menggemaskan, dan paling cepat menarik perhatianku saat pertama kali ia mengikuti pengajian di TPA Attaqwa… ia adalah “Fikri”.. sayangku…
Aku senang bisa melihatnya lagi setelah sekian lama ia absen dari pengajian. Aku bahagia sekali bisa melihatnya kali ini. Namun, rasa bahagia ini tak sempurna, ada semburat sedih mencuat di hati hingga akhirnya kuekspresikan dalam raut suram wajahku, raut itupun yg kulihat tersirat di wajah tyas, teman sekamarku. Rasanya aku bisa menebak apa yg dirasakan tyas… sama sepertiku. “Aku miris”
Coba lihat kesana, fikri kecilku sedang bemain, berlari-lari kecil di taman tengah kota, tanpa alas kaki, betapa cerianya ia. Betapa polosnya ia… tak ada risau terpancar dari wajahnya yg imut, tak ada keraguan menapaki kebahagiaan itu, tak ada sedih meratapi nasibnya. Bukan karena cerianya itu aku merasa miris, tapi yang aku miriskan adalah “waktu & tempat yang salah” dimana ia berada sekarang… “Mengapa ia bahagia hidup di jalan sedang teman seusianya sedang belajar di TK?” “Yang aku takutkan adalah ia bahagia menjalani hari sebagai anak jalanan yg tak punya cita-cita” “yang aku herankan, Mengapa orangtuanya setega itu pada fikri, membiarkan ia tumbuh di jalan, jalan yang berteladankan preman & peminta-minta, miskin pendidikan, jauh dari pola hidup sehat, rawan penyakit” aku juga heran akan ketidakpedulian orangtuanya pada pendidikan anak-anaknya, pernah kudengar mereka kurang mendukung kegiatan sekolah Novi (kakak fikri), bahkan mereka sampai membuat Fikri & Novi absen dari pengajian”
Aku jadi teringat dulu, ketika kali pertama Fikri absen. Aku langsung mencari tahu alasan ketidakhadirannya. Aku diberitahu anak-anak TPA lainnya,bahwa ia tak diizinkan lagi mengikuti pengajian karena dia dan kakaknya harus membantu orangtua mereka berjualan di kios kecil di sisi jalan Siliwangi dekat perempatan jalan Dago. Saat diberitahu alasan itu aku agak kurang percaya, mungkin anak-anak salah menafsirkan maksud orangtua fikri melarangnya ikut TPA. Tak mungkin alasannya “separah” itu. Fikri baru berumur 4 tahun, masa iya, ia harus berjualan di perempatan jalan.
Sekarang barulah kupercaya berita itu benar…
“Ya Allah…Innalillahi…” aku harus melakukan sesuatu!!! pikirku.
Harus aku follow up-i hal ini dengan solusi nyata. Aku berazam kan kucari cara untuk mengubah hal ini, tidak hanya pada fikri tapi pada anak-anak lain disekeliling kosanku yang bernasib sama.
“Yas, kayaknya kita harus segera launching buletin Attaqwa untuk para warga deh!!!” seruku memecah lamunan Tyas, ” Iya bener teh!! Kita harus gencar melakukan pencerdasan ke warga-warga!! Jangan sampai hal seperti ini meluas dan menjadi prinsip hidup mereka” Sambung Tyas menyeru ajakanku. Rupa-rupanya Tyas mengerti apa yang sedang kupikirkan.
Pembicaraan pun terus berlanjut, sampai melahirkan ide2 yg bisa dijadikan alternatif solusi2 dari permasalahan tadi, dari mulai menyebar buletin, diskusi bersama pihak RT/RW, memasukkan isue ini ke majelis2 ta’lim, membuat pekan kreativitas Attaqwa, hingga akhirnya kami tiba di gerbang belakang kampus. turun dari angkot sambil menghadap ke kemegahan kampusku… aku jadi ingin berseru ” KONTRIBUSI !!!”
-
Arsip
- Oktober 2009 (3)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (2)
- Februari 2009 (4)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (2)
- Mei 2008 (5)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS