hari ini hujan dan lembayung…
Hari ini hujan turun deras dan lembayung cantik menaunginya..
aku sendiri sedang merindukannya jauh di lubuk hati…
merindukan datangnya masa itu yang seakan masih lama karna waktu terasa lambat berjalan…
merindukan saat-saat dimana aku menjadi lembayung yang cantik yang menaungi semangat atau emosinya yang mengalir deras…
menjadi lembayung yang cantik yang memperindah gelap ketika hari menjelang malam
juga merindukan saat-saat dimana ketika aku yang menjadi hujan deras, maka ia menjadi lembayungnya… tak perlu cantik… cukup hanya sabar saja menantiku reda
miris…
Di samping kosanku di jalan Siliwangi dalam III, terdapat sebuah masjid kecil, Attaqwa namanya. Sejak pindah kesana bulan Oktober lalu, aku diminta mengajar disana sebagai guru TPA tiap malam selasa. Sekarang tidak hanya malam selasa saja, hampir tiap hari aku mengajar disana. Aku benar-benar menikmati malam-malamku bersama mereka. Kepolosan mereka, keceriaan mereka, tingkah pola mereka yang lucu yang membuatku jatuh hati pada mereka. Aku menyukai mereka semua. Untuk remajanya pun sama, meskipun mereka tidak selucu anak-anak kecilnya.
Tapi banyak sekali yang kumiriskan dari kondisi mereka. Mulai dari kondisi ekonomi, perilaku yang dicontohkan, serta pola hidup mereka.
Suatu hari aku pernah menasehati anak didikku yang remaja agar tidak lagi memakai celana pendek di luar rumah. Namun dia tetap memakainya meskipun telah berkali-kali kunasehati. Aku heran, saat dinasehati dia bilang “iya teh” tapi kenyataannya tidak berubah. Jika masalahnya adalah caraku menasehati, rasanya bukan, aku menasehati mereka dengan sangat halus sama sekali tidak dengan kekerasan. Setahuku , merekapun menyukaiku dan menghormatiku, jadi bukan karena “aku” mereka tidak mengikuti nasehatku.
Rasa heranku ini hilang disuatu kejadian yang membuatku mengerti. Suatu hari saat pulang kuliah. Aku melewati gang rumahnya seperti biasa, ia dan seseorng dibelakangnya -entah siapa- sedang berjalan ke arahku, saat berpapasan ia bilang “teh maaf ya hari ini g bisa ngaji, mau nganter ibu kesana” (menunjuk suatu tempat). “Oh ini Ibu??!!” aku kaget ketika melihat ibunya tapi tetap tersenyum kepadanya.
Dengan kaos berbahan strech (strit) ketat membentuk tubuhnya dan celana yang super pendek (hampir 2/3 pahanya terlihat) Ibunya berjalan berlenggang melewatiku. Tentu saja saat itu pula hati dan otak ku berdenyut keras dengan frekuensi yang jauh lebih besar dari biasanya , hatiku miris dan otakku tak habis pikir, bingung bercampur sedih memenuhiku….
“Inikah potret ibu masa kini ?! yang ukuran baik dan buruknya telah bergesar dari akhlak menjadi “gaul”. dan apa itu definisi gaul? “
“Pantas saja anaknya seperti itu, ibunya yang mencontohkannya”
Aku tidak bisa apa-apa…. tak mengerti bagaimana, siapa yang harus kusalahkan, bagaimana solusinya jika begini, siapa yang bodoh sebenarnya, ada siapa di balik ini, siapa yang menginginkan kehancuran ini, siapa yang harus bertindak, lalu aku bisa apa, serentetan pertanyaan terus menghujaniku…
Saat itu sejenak kulupakan dulu perasaanku, pertanyaan-pertanyaan di benakku, yang ingin aku lakukan terlebih dahulu saat itu adalah “berjanji bahwa jika aku jadi ibu, aku tidak akan seperti itu”
yang ingin aku lakukan terlebih dahulu saat itu adalah “berjanji bahwa jika aku jadi ibu, aku tidak akan seperti itu”
Detik-detik Rasulullah SAW menjelang Sakaratul maut
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning burung-burung gurun pun enggan mengepakkan sayapnya.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah:
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan Cinta Kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah hanya kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Sunnah dan Al-Qur’an. Barang siapa yang mencintai Sunnahku berarti mencintai aku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku,”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Ustman menghela nafas panjang dan Ali menundukan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
“Assalaamu’alaikum….Bolehkah saya masuk ?” tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengijinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah.
“Siapakah itu wahai anakku?”
“Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah Malaikat Maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat Maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit untuk menyambut ruh kekasih Allah dan Penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah dibuka, para malaikat telah menanti Ruhmu, semua pintu Surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu semua ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini, Ya Rasulullah?” tanya Jibril lagi.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan Khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya’” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan Ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit Sakaratul Maut ini.” Lirih Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah engkau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu wahai Jibril?” Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direngut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik karena sakit yang tak tertahankan lagi.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku”.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
“Peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu,”
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“umatku, umatku, umatku”
dan….PUPUSLAH KEMBANG HIDUP MANUSIA MULIA ITU………
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?
siapkah kita menjelang ‘Penjemputan’ ruh kita??hari itu tambah dekat kawan..gak ada yang tau..
waktu dosen g dateng..
yaah… terpaksa deh lina yang ngehandle kelas, mau ngapain ya?!
untung aja buat amanah asisten ini lina udah berazzam supaya selalu menyiapkan materi minimal bercerita atau membawakan simulasi kecil untuk peserta kuliah AEI kelas 6..
dan ternyata “it was not so bad”-lah… kalo bisa dinilai sendiri…
kemarin tuh lina bacain artikel ttg Rasulullah tepatnya “detik-detik meninggalnya Rasulullah”
Waktu di awal-awal bacasebenernya agak garing … tapi lama-kelamaan lina ngeliat ada beberapa pasang mata yang berkaca-kaca… mereka(peserta kuliah AEI) hampir nangis… setelah melihat itu lina pun terenyuh ikut menangis pula… padahal jujur aja sebelum itu lina hanya sekedar baca belum ngerasain “feel”- nya kisah tersebut…
Akhirnya airmata ini pun terurai,… kemudian disusul oleh beberapa pasang mata yang lain… suasananya indah banget Haru…
Semoga ini jadi titik awal kami semua untuk berazzam untuk mencintaiRasulullah SAW…
juga menjadi titik awal datangnya hidayah bagi yang belum merasa mendapatkannya….
wallahu ‘alam
-
Arsip
- Oktober 2009 (3)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (2)
- Februari 2009 (4)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (7)
- November 2008 (2)
- Mei 2008 (5)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
